Welcome to Ana's Blog

01 April 2012

Pekerjaan Di Bidang Psikologi Yang Menggunakan Komputer Sebagai Media/Alat Utama

A. Latar belakang

Pada masa sekarang ini teknologi di dunia semakin berkembang pesat, terlebih lagi perkembangan di bidang teknologi komputer yang mendorong penggunaan dan pemanfaatan perkembangan teknologi tersebut secara luas di berbagai bidang dan aspek kehidupan, sehingga memudahkan masyarakat pada umumnya dan individu pada khususnya dalam menunjang kegiatan mereka sehari-hari.

Suatu hubungan timbal balik yang terjadi antara Manusia dan Komputer, dimana satu sama lain saling membutuhkan. Suatu computer tidak akan berfungsi apabila tidak ada seseorang yang mengoperasikannya. Begitu pula dengan Manusia, manusia sangat membutuhkan computer untuk berbagai keperluan, seperti mendapatkan informasi yang tidak mungkin didapat dari buku.

Dalam bidang psikologi pendidikan menggunakan salah satu system dalam computer yaitu CAI. Pembelajaran dengan bantuan komputer (CAI) adalah software yang dapat digunakan sendiri atau digunakan bersama dengan sistem instruksional lain. Perangkat lunak yang digunakan berfungsi untuk membantu proses pembelajaran. Manfaat komputer meliputi penyajian informasi, isi materi pelajaran dan latihan atau kombinasinya.

Menurut Herman D Surjono (1999), istilah CAI (Computer-Assisted Instruction) umumnya menunjuk pada semua software pendidikan yang diakses melalui komputer di mana anak didik dapat berinteraksi dengannya. Sistem komputer menyajikan serangkaian program pengajaran kepada anak didik baik berupa informasi maupun latihan soal-soal untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu dan pebelajar melakukan aktivitas belajar dengan cara berinteraksi dengan sistem komputer.

Hannafin dan peck mengklasifikasikan model program CAI menjadi 4 model,yakni: (1) drill and practice, (2) tutorials, (3) simulasi, dan (4) instructional games games (Michael J.hannafin and Kyle L.Peck : 1988).

B. Keuntungan program computer (CAI) di bidang Psikologi

Dengan adanya pemanfaatan teknologi secara efektif akan dapat menunjang proses belajar mengajar karena bahan ajar tidak hanya terpaku pada kurikulum yang berlaku, para peserta didik juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif mereka karena proses pembelajaran yang didapat tidak hanya dari institusi-institusi tertentu. Selain itu dapat melatih keterampilan anak dalam proses belajarnya, dan tidak mudah bosan karena dalam model CAI banyak variasi yang bisa didapat sehingga lebih cepat dalam memahami saat pembelajaran tersebut.

Sumber:

Gifa, L (2010). ”Model Pebelajaran CAI dan penerapannya di sekolah SD”. www.GifaLyta.wordpress.com

http://woro-psikologi.blogspot.com/2012/03/pekerjaan-di-bidang-psikologi-yang.html

20 Maret 2012

Mencari Pekerjaan dengan Mudah JobLoker aja!!

Di zaman modern saat ini dalam mencari pekerjaan sangat lah sulit, sehingga banyak orang lebih memilih berwira usaha, menciptakan lahan pekerjaan baru. Namun, mencari pekerjaan sekarang dapat dipermudah dengan situs-situs pekerjaan yang semakin marak di Indonesia. Dengan adanya situs-situs tersebut akan memudahkan kita sebagai pelamar kerja, baik dari segi waktu, tenaga dan materi. Saya mencoba menganalisa dari salah satu situs pekerjaan yaitu JobLoker.com
pertama saya membuka situs JobLoker.com dan ini lah tampilan awalnya.

Ada beberapa pilihan menu yang mudah dimengerti dibandingkan situs mencari pekerjaan lain yang rata-rata sulit untuk dimengerti menunya. Pada tampilan ini terlihat kotak Sign In untuk pencari kerja dan untuk perusahaan yang terdapat di bagian kanan dan kiri atas. Jika ingin Sign in sebagai pencari kerja tinggal mengklik masuk (untuk yang sudah mempunyai akun), jika belum anda tinggal mengklik daftar.

Jika anda baru pertama mendaftar maka akan keluar tampilan seperti ini setelah anda mengklik daftar

Dan disini pendaftar tinggal mengisikan data berupa Nama, Email dan kata sandi, lalu klik Daftar cukup mudah kan dalam melakukannya. Setelah masuk ke dalam akun maka akan muncul dashboard pada akun kita.
Disini ada pilihan-pilihan menu yang dapat memudahkan kita untuk mencari pekerjaan bahkan mengedit akun kita. Kita juga dapat memasukan Resume pada akun yang telah di buat, kita bisa menguploadnya sendiri, namun pada JobLoker juga menyediakan menu untuk membuat Resume pada akun. Hal ini memudahkan para calon pekerja.

Setelah membuat Resume kita dapat memilih dan melihat-lihat jenis pekerjaan yang tersedia.

Dan pada menu pekerjaan, pendaftar dapat melihat Title pekerjaan, Perusahaan, Lokasi dan Tanggal terkait, sehingga dapat memilih sesuai dengan ke inginan kita.

Demikian analisis yang saya berikan pada situs cariJOB.com, mudah-mudahan berguna dan bermanfaat bagi para calon oekerja yang akan melamar pekerjaan dengan cara yang mudah dan tentu saja informatif

Kurang lebihnya saya mohon maaf.





14 Mei 2011

stres

Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.

Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanantantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai

Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

Sumber-sumber potensi stress

a. Faktor lingkungan

Selain memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi tingkat stres para karyawan dan organisasi. Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika ekonomi memburuk orang merasa cemas terhadap kelangsungan pekerjaannya.

b. Faktor organisasi

Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi.

Tuntutan tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa menjadi sumber stres.

Tuntutan peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi. Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi.

Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan. Tidak adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.

c. Faktor pribadi

Faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang.

Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stres.

Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan. Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.

Akibat Stres

Stres menampakkan diri dengan berbagai cara. Sebagai contoh, seorang individu yang sedang stres berat mungkin mengalami tekanan darah tinggi, seriawan, jadi mudah jengkel, sulit membuat keputusan yang bersifat rutin, kehilangan selera makan, rentan terhadap kecelakaan, dan sebagainya. Akibat stres dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum: gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala perilaku.

Pengaruh gejala stres biasanya berupa gejala fisiologis. Terdapat riset yang menyimpulkan bahwa stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan detak jantung dan tarikan napas, menaikkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan memicu serangan jantung.

Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dpat menyebabkan ketidakpuasan terkait dengan pekerjaan. Ketidakpuasan adalah efek psikologis sederhana tetapi paling nyata dari stres. Namun stres juga muncul dalam beberapa kondisi psikologis lain, misalnya, ketegangan, kecemasan, kejengkelan, kejenuhan, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat produktivitas, kemangkiran, dan perputaran karyawan, selain juga perubahan dalam kebiasaan makan, pola merokok, konsumsi alkohol, bicara yang gagap, serta kegelisahan dan ketidakteraturan waktu tidur. Ada banyak riset yang menyelidiki hubungan stres-kinerja. Pola yang paling banyak dipelajari dalam literatur stres-kinerja adalah hubungan U-terbalik. Logika yang mendasarinya adalah bahwa tingkat stres rendah sampai menengah merangsang tubuh dan meningkatkan kemampuannya untuk bereaksi. Pola U-terbalik ini menggambarkan reaksi terhadap stres dari waktu ke waktu dan terhadap perubahan dalam intensitas stres.

Menurut Lazarus (1991) dalam melakukan penilaian tersebut ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu :

1. Primary appraisal

Primary appraisal merupakan proses penentuan makna dari suatu peristiwa yang dialami individu. Peristiwa tersebut dapat dipersepsikan positif, netral, atau negatif oleh individu. Peristiwa yang dinilai negatif kemudian dicari kemungkinan adanya harm, threat, atau challenge. Harm adalah penilaian mengenai bahaya yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Threat adalah penilaian mengenai kemungkinan buruk atau ancaman yang didapat dari peristiwa yang terjadi. Challenge merupakan tantangan akan kesanggupan untuk mengatasi dan mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang terjadi (Lazarus dalam Taylor, 1991). Pentingnya primary appraisal digambarkan dalam suatu studi klasik mengenai stres oleh Speisman, Lazarus, Mordkoff, dan Davidson (dalam Taylor, 1991). Studi ini menunjukkan bahwa stres bergantung pada bagaimana seseorang menilai suatu peristiwa.

Primary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:

  1. Goal relevance; yaitu penilaian yang mengacu pada tujuan yang dimiliki seseorang, yaitu bagaimana hubungan peristiwa yang terjadi dengan tujuan personalnya.
  2. Goal congruence or incongruenc; yaitu penilaian yang mengacu pada apakah hubungan antara peristiwa di lingkungan dan individu tersebut konsisten dengan keinginan individu atau tidak, dan apakah hal tersebut menghalangi atau memfasilitasi tujuan personalnya. Jika hal tersebut menghalanginya, maka disebut sebagai goal incongruence, dan sebaliknya jika hal tersebut memfasilitasinya, maka disebut sebagai goal congruence.
  3. Type of ego involvement; yaitu penilaian yang mengacu pada berbagai macam aspek dari identitas ego atau komitmen seseorang.

2. Secondary appraisal

Secondary appraisal merupakan penilaian mengenai kemampuan individu melakukan coping, beserta sumber daya yang dimilikinya, dan apakah individu cukup mampu menghadapi harm, threat, dan challenge dalam peristiwa yang terjadi.

Secondary appraisal memiliki tiga komponen, yaitu:

  1. Blame and credit: penilaian mengenai siapa yang bertanggung jawab atas situasi menekan yang terjadi atas diri individu.
  2. Coping-potential: penilaian mengenai bagaimana individu dapat mengatasi situasi menekan atau mengaktualisasi komitmen pribadinya.
  3. Future expectancy: penilaian mengenai apakah untuk alasan tertentu individu mungkin berubah secara psikologis untuk menjadi lebih baik atau buruk.

Pengalaman subjektif akan stres merupakan keseimbangan antara primary dan secondary appraisal. Ketika harm dan threat yang ada cukup besar, sedangkan kemampuan untuk melakukan coping tidak memadai, stres yang besar akan dirasakan oleh individu. Sebaliknya, ketika kemampuan coping besar, stres dapat diminimalkan.

Respon Stres

Taylor (1991) menyatakan, stres dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu:

a. Respon fisiologis; dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.

b. Respon kognitif; dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.

c. Respon emosi; dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.

d. Respon tingkah laku; dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Stres

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/stres.html

avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/psikologilingkungan_avin.pdf

Teriteriolitas, Privasi dan Ruang personal

Teriteriolitas

Pengertitan

Teriteriolitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat-tempat yang ditempainya atau area yang sering melibatkan cirri pemilikannya dan pertahannan dari serangan orang lain.

Elemen-elemen teriteriolitas

Ada 4 karakter dari teriteriolitas:

  1. Kepemilikan atau Hak dari suatu tempat.
  2. personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu.
  3. hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, dan
  4. pengaturan dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

Teriteriolitas dibagi menjadi tiga:

a. Teritorial primer

Jenis territorial ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritoi utama ini akan menimbulkan perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritorin utama ini akan mengakibatkan masalah serius terhadap psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitas.

b. Teritori sekunder

Jenis teritori ini lebih longgar pemakaian dan control perorangannya. Territorial ini dapat digunakan orang lain yang masih didalam kelompok ataupun orang yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu. Sifat territorial sekunder adalah semi publik.

c. Teritorial umum.

Territorial umum dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana territorial umum itu berada. Territorial umum dapat dipergunakan secara asementara dalam jangka waktu lama maupun singkat.

Privasi (Personal space)

Privasi adalah suatu konsep dari gejala persepsi manusia terhadp lingkungannya, dimana konsep ini amat dekat dengan konsep ruang personal dan teritorialitas. Privasi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari public, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka.

Privasi dibagi menjadi 2 golongan:

1. Golongan yang berkeinginan untuk tidak diganggu secara fisik.

a. Keinginan untuk menyendiri (solitude)

Misalnya, ketika seseorang sedang mengalami masalah semua perasaan bercampur antara sedih, marah, kesal.dll dalam keadaan seperti itu dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

b. Keinginan untuk menjauhkan dari pandangan atau gangguan suara tetangga atau lalu lintas (seclusion).

Misalnya, seseorang yang sedang sedih dia ingin menenangkan pikirannya dengan mengunci diri dikamarnya atau pergi kesuatu tempat yang membuat pikirannya tenang.

c. Keinginan untuk intim dengan orang-orang tertentu saja, tetapi jauh dari semua orang (intimasi).

Misalnya, rekreasi bersama keluarga.

2. Golongan yang bverkeinginan untuk kerahasiaan diri sendiri yang berwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang dianggap perlu.

a. Keinginan untuk merahasiakan jati diri (anaomity).

b. Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu benayak kepada orang lain (reserve).

c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan tetangga (not neighboring).

Ruang Personal

Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Sommer (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang dan kadang-kadang menarik diri.

Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yaitu jarak intim, jarak personal, jarak sosial dan jarak publik (proksemik/cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi). Jarak intim atau kedekatan dengan jarak 0-18 inci. Hall menyatakan bahwa “daerah keakraban” kaya akan syarat-syarat yang potensial untuk berkomunikasi yang juga menyajikan banyak hal tentang seseorang. Jarak personal (pribadi) memiliki jarak 1,5-14 kaki. Zona jarak pribadi adalah transisi antara kontak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.jarak sosial mempunyai jarak 4-25 kaki dan memungkinkan terjadinya kontak sosial yang umum serta hubungan bisnis. Dalam penelitian di suatu kantor terbukti bahwa pada susunan bangku-bangku dan perabotan milik kantor sering disusun secara tak sengaja berdasarkan pada zona jarak sosial. Zona yang terakhir yaitu zona publikj dengan jarak 12-25 kaki. Jarak ini secara khusus disediakan untuk situasi-situasi formal atau pembicaraan umum atau orang-orang yang berstatus lebih tinggi, misalnya dalam kelas.
Studi menunjukkan bahwa perbedaan individu dan situasi selain menentukan jarak personal juga mempengaruhi orientasi tubuh seseorang terhadap orang lain. Salah satunya adalah variabel jenis kelamin, misalnya laki-laki lebih menyukai posisi berhadapan dengan orang yang disukainya. Sementara perempuan lebih memilih posisi bersebelahan.

Dapat disimpulkan bahwa privasi, teritorialitas dan ruang personal dapat membentuk atau mempengaruhi suatu tingkahlaku dan kepribadian manusia. Hal tersebut semakin terlihat jelas ketika manusia tersebut bertemu dengan manusia lainnya. Bagaimana seseorang membawakan diri ketika ia berada di sekitar orang lain dan lingkungannya


Sumber Referensi :

Hubungan Privasi, Teritorialitas, Ruang Personal. www.repository.upi.edu
Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok : Universitas Gunadarma.

kepadatan dan kesesakan

Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightsman&Deaux, 1981). Kemudian menurut Sarwono (1992), yakni suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya. Selain masalah ruangan, kepadatan juga menyebabkan adanya perubahan perilaku serta mempengaruhi kesehatan fisik serta psikologis seseorang.

Kepadatan juga memiliki hubungan dengan perilaku tolong menolong seperti yang dikatakan oleh Milgram (dalam Wrightsman & Deaux, 1984). Dalam teori ini menjelaskan bahwa kondisi yang padat yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti factor perbedaan individu, situasi, dan kondisi social mengakibatkan perolehan stimulus yang berlebihan, sehingga individu harus melakukan adaptasi dengan cara memilih stimulus-stimulus yang akan diterima dengan memberi sedikit perhatian terhadap stimulus lain yang masuk. Hal ini dapat dilakukan dengan menarik diri atau mengurangi kontak dengan orang lain, yang akhirnya dapat mempengaruhi perilaku menolong pada individu.

Hubungan antara kepadatan dan kesesakan bukanlah suatu hubungan sebab-akibat, melainkan kepadatan merupakan salah satu syarat terjadinya kesesakan.

  • Kategori Kepadatan

Kepadatan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori. Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori, yaitu kepadatan spasial (spatial density) yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan sejumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang dan kepadatan sosial (social density) yang terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu. Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman, sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi atau kepadatan rendah. Taylor (dalam Gifford, 1982) mengatakan bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang sangat penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal. Oleh karena itu, individu yang bermukim di pemukiman dengan kepadatan yang berbeda mungkin menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.

  • Akibat-akibat Kepadatan Tinggi

Menurut Heimstra dan Mc Farling (1978) kepadatan memberikan akibat bagi manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis. Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan McFarling, 1978). Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1978).

Akibat secara psikis antara lain :

a. Stres, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stres, (Jain, 1978) dan perubahan suasana hati (Holahan, 1978).

b. Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1978).

c. Perilaku menolong (perilaku prososial), kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau member bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan 1982; Fisher dkk., 1984).

d. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982).

e. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustrasi dan kemarahan serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

KESESAKAN

Menurut Rapoport (dalam Stokols dan Altman, 1987) mengatakan bahwa kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi, sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruang yang tersedia. Kesesakan berhubungan erat dengan kepadatan namun kepadatan bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, jika beberapa orang dalam suatu ruangan yang luas, dan ada seseorang pembuat keributan di ruangan itu. Orang lain yang terganggu yang tidak mampu mengusir si pembuat keributan akan menimbulkan perasaan cemas atau stres yang dapat mengurangi efektivitas respon pengatasan, lalu kesesakan privasi akan timbul. Sampai satu orang lainnya memukul pembuat keributan. Altman (1975) menerangkan bahwa tiap individu mempunyai tingkat privasi yang berbeda. Privasi yang diinginkan individu dapat dicapai dengan menggunakan mekanisme coping , verbal, non verbal dan perilaku teritori.

Pada dasarnya batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan, yaitu :

a. Faktor Personal, terdiri dari :

· Kontrol pribadi dan locus of control

· Budaya, pengalaman, dan proses adaptasi

b. Faktor Sosial

· Kehadiran dan perilaku orang lain

· Formasi koalisi

· Kualitas hubungan

· Informasi yang tersedia

c. Faktor fisik

Pengauh negatif kesesakan tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasaan kurang nyaman, stres, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan prestasi belajar menurun, agresivitas meningkat, dan bahkan juga gangguan mental yang serius.

Individu yang berada dalam kesesakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala-gejala psikosomatik, dan penyakit-penyakit fisik yang serius (Worchel dan Cooper, 1983).

Perilaku sosial yang seringkali timbul karena situasi yang sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan, 1982).

Sumber Referensi :
Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok : Universitas Gunadarma.

28 Februari 2011

pengaruh teknologi di pedesaan

Psikologi lingkungan berkaitan dengan kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi tanaman, hewan, objek material, dan manusia. Ada beberapa hal yang dapat menimbulkan ketegangan lingkungan ( evironmental stress ), misalnya, keadaan ruangan yang akan memicu kejiwaan seseorang, suhu, suasana dan sifat cahaya. Jadi pengaruh lingkungan terhadap kejiwaan seseorang dapat bersifat internal, eksternal, dan transendental.

Contoh Pengaruh Teknologi di Pedesaan

Teknologi sekarang sudah sangat canggih. Alat telekomunikasi seperti internet dan telepon memberi pengaruh besar kepada pribadi seseorang. Sehingga orang yang tinggal di lingkungan pedesaan bukan tidak mungkin berpandangan liberal dan kebarat-baratan. Ternyata, pengaruh dunia maya sangat besar dalam membentuk pribadi seseorang.

Lingkungan kota sangat berbeda dengan lingkungan desa. Jika lingkungan kota adalah lingkungan pekerja yang dekat dengan teknologi canggih, seperti karyawan pabrik yang akrab dengan mesin-mesin pabrik dengan teknologi tinggi atau karyawan kantor yang akrab dengan media komputer, sementara masyarakat desa akrab dengan lingkungan alam karena kebanyakan mereka bekerja sebagai petani. Namun tidak menutup kemungkinan masyarakat pedesaan pun dapat mengenal teknologi seperti internet dan handphone canggih sehingga dapat mempengaruhi isme mayarakat pedesaan.

Dalam teori level adaptasi di psikologi lingkungan bahwa, teori ini pada dasarnya sama dengan teori beban lingkungan. Menurut teori ini, stimulasi level yang rendah maupun level tinggi mempunyai akibat negatif bagi perilaku. Level stimulasi yang optimal adalah yang mampu mencapai perilaku optimal pula (Veitch & Arkkelin, 1995). Dengan demikian dalam teori ini dikenal perbedaan individu dalam level adaptasi. Adaptasi dilakukan ketika terjadi suatu disonansi di dalam suatu sistem, artinya ketidakseimbangan antara interaksi manusia dengan lingkungan, tuntutan lingkungan yang berlebih atau kebutuhan yang tidak sesuai dengan situasi lingkungan.

Dengan adanya tuntutan untuk lebih maju dan memudahkan berkomunikasi dengan keluarga yang jauh maka masyarakat pedesaan menyeimbangi perubahan yang ada saat ini seperti teknologi tersebut.

11 Januari 2011

Penanganan bencana tsunami di kepulaian Mentawai

Pasca terjadinya tsunami di Mentawai pada 3 bulan yang lalu, sejumlah mahasiswa Psikologi Gunadarma melakukan rehabilitasi metal kepada para korban.

Sebagaimana di beritakan sebelumnya, Senin (25/10) dua pulau di kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, hancur berkeping-keping di hantam gempa dan diterjang Tsunami setinggi 7 meter. Tsunami berkekuatan 7,2 skala richer telah meluluh lantahkan kepulauan Mentawai.

Banyak korban yang berjatuhan, korban tsunami yang selamat akan di ungsikan di berbagai titik tempat pengungsian. Menurut mereka Pasca terjadinya Tsunami banyak korban yang mengalami depresi, trauma, diare, flu, dan lain sebagainya.

30 relawan tersebut mengadakan simulasi dan permainan untuk menghilangkan trauma para korban. Menurut salah satu relawan mahasiswa psikologi Gunadarma, YR (inisial), “Kami mencoba memberikan penanganan untuk anak-anak korban Tsunami di mentawai dengan memberikan keterampilan yang terlatih untuk meningkatkan prestasi. Seperti membuat keterampilan dengan kertas origami (burung-burungan, kapal-kapalan), bermain dengan menggunakan karet gelang dengan berbagai macam bentuk untuk melatih keterampilan motorik, bermain bola dengan fasilitas yang ada di sekitar lingkungan pengungsian. Kami mengajak anak-anak korban Tsunami bermain sambil belajar, dengan begitu mereka tetap mendapatkan pendidikan selama masih berada dalam lingkungan pengungsian.”

Menurut koordinator relawan mahasiwa psikologi Gunadarma, Epsy Lastyningtyas bahwa penangan sesuai dengan teori wawancara kognitif, ”Ya... kami menerapkan teori wawancara kognitif, untuk menggali informasi dari korban Tsunami agar trauma yang mereka alami tidak sampai pada tahap yang lebih dalam lagi, seperti skizofrenia, terutama pada anak-anak korban Tsunami di Mentawai.” tambahnya.

”Banyak para korban bencana yang mengalami gangguan psikis baik depresi maupun trauma, bukan hanya orang dewasa saja, anak-anak pun mengalaminya.

Penanganan yang kami lakukan untuk orang dewasa yaitu dengan terapi kelompok yang bertujuan bahwa bukan hanya satu orang saja yang mengalami kejadian tersebut tetapi masih banyak korban lain yang mengalami bencana tersebut dan sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi.

Penanganan selanjutnya kami memakai Cognitive behavior therapy (CBT) yaitu terapi yang mengajak penderita untuk mempelajari bagaimana mencerna atau mempersepsikan peristiwa kehidupannya. Mulai dari persepsi yang tidak rasional menjadi persepsi yang rasional. Agar para korban dapat belajar mengenali masalah secara objektif, berpikir positif dan masalah dari aspek yang sehat.

Dengan begitu para korban yang berada dalam pengungsian dapat saling memberi support.” kata salah satu relawan yang ikut dalam memberikan penanganannya.

29 Oktober 2010

Jurnal Psikologi Kelompok

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini.

Kami ucapkan terimakasih yang sebesar–besarnya kepada Ibu Dosen sebagai Dosen Psikologi Kelompok yang telah membimbing kami, sehingga dapat tersusunnya atau terselesaikannya Makalah ini.

Adapun tujuan pembuatan Makalah ini untuk memenuhi tugas Psikologi Kelompok yang dititik beratkan pada masalah mengenai kelompok. Apa yang dimaksud dengan pembentukan kelompok, konflik kelompok, dan prestasi dalam kelompok.

Harapan kami agar Makalah dari beberapa jurnal ini dapat bermanfaat bagi setiap orang, agar kita dapat memahami apa sebenarnya yang menjadi masalah dalam kelompok.

Akhirmya kami merasa sangat senang menerima kritikan maupun saran yang sifatnya membangun, agar dapat kami jadikan perbaikan dalam penyusunan Makalah dimasa yang akan datang.


DAFTAR ISI


1. Dinamika kelompok petani

· Latar belakang

· Apa yang diteliti

· Metodologi

· Diujikan bagaimana

· Hasil dari penelitian

2. Peningkatan Ekonomi Rumah Tangga Nelayan Melalui Pemberdayaan Wanita Nelayan

· Latar belakang

· Apa yang diteliti

· Metodologi

· Cara pengujian

· Hasil dari Penelitian

3. Kelompok Kecil

4. Keanekaragaman, Konflik, dan Kinerja dari Kelompok Kerja


DINAMIKA KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT: Studi Kasus di desa Kertayasa, Boja dan Sukorejo, ( The dynamics of community Forest Farmer Group: Cases Study in villages of Kertayasa, Boja, and Sukorejo )


  1. Latar Belakang

Pembangunan hutan rakyat dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama petani pemilik hutan rakyat, serta menjaga kelestarian hutan yang mengarah pada subtainability, sehingga kegiatan tersebut diharapkan dapat memberi tambahan pendapatan sekaligus lahan-lahan yang tidak atau belum termanfaatkan dapat lebih ditingkatkan manfaat dan produktifitasnya melalui tanaman kayu-kayuan. Berdasarkan tujuan tersebut, pembangunan hutan rakyat tidak dapat dilaksanakan secara perorangan (spasial), tetapi harus secara bersama-sama.

Oleh karena itu dalam pelaksanaannya dilakukan secara terprogam, dan untuk mendukungnya diperlukan penggalangan petani agar dapat melaksanakan program tersebut, dan dibentuk suatu lembaga kemasyarakatan seperti kelompok tani hutan rakyat yang memiliki pengertian sebagai perkumpulan orang-orang (petani) yang tinggal di sekitar hutan.

Kelompok tani yang telah terbentuk diharapkan dapat dijadikan sebagai media untuk berkelompok dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas petani dengan atau tanpa adanya intervensi dari luar sehingga pendapatannya dapat meningkat, dan akhirnya kesejahteraan akan turut meningkat pula, sehingga akan timbul kedinamisan dari kelompok tersebut.


  1. Apa yang Diteliti

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  • Tingkat kedinamikaan sosial kelompok tani
  • Faktor-faktor dinamika kelompok tani yang masih memerlukan perhatian dan pembinaan lebih lanjut
  • Peranan anggota kelompok tani dalam pengembangan hutan rakyat

3. Menggunakan metode apa (METODOLOGI)


A. Kerangka Analisis

Pembentukan kelompok tani hutan rakyat umumnya merupakan bantuan dari proyek sehingga dengan adanya stimulus tersebut memudahkan untuk mempersatukan anggota kelompok dalam mencapai tujuan bersama yaitu pembangunan hutan rakyat yang mampu meningkatkan kesejahteraaan anggotanya.

B. Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi, yaitu desa Kertayasa kabupaten Ciamis, desa Boja kabupaten Cilacap, dan desa Sukorejo kabupaten wonosobo.

C. Jenis dan Analisis Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpulkan dan diperoleh dari laporan-laporan instansi terkait yang berhubungan dengan dengan aspek yang diteliti. Sedangkan data primer langsung diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan.

Seperti yang dikemukakan Djoni dkk (2000), tingkat kedinamisan kelompok tani berdasarkan pendekatan sosiologis tergantung pada beberapa faktor, yaitu:


  1. Diujikan bagaimana

Dengan menggunakan data primer dan data sekunder, data primer langsung diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Analisis dilakukan terhadap petani yang tergabung dalam kelompok tani. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dikumpulkan dan diperoleh dari laporan-laporan instasi terkait yang berhubungan dengan aspek yang diteliti.


5. Hasilnya apa

Kelompok tani hutan di desa Boja memiliki tingkat kedinamisan yang rendah, dinamika kelompok tani hutan desa Kertayasa skornya paling tinggi dibandingkan dengan kelompok tani hutan lainnya untuk jumlah nilai secara keseluruhan. Sedangkan untuk kelompok tani hutan di desa Sukorejo memiliki nilai faktor-faktor dinamika diatas nilai minimum dan dapat diartikan bahwa anggota kelompok tani telah merasakan manfaat terbentuknya kelompok tani tersebut.


  1. Prestasi

Desa Sukorejo merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Mojotengah kabupaten Wonosobo dan telah maju dalam pengembangan hutan rakyatnya, terbukti pada tahun 1983 telah berhasil meraih juara I lomba penghijauan tingkat propinsi Jawa Tengah dan juara II tingkat nasional. Dengan di raihnya predikat juara lomba penghijauan menyebabkan adanya perubahan status kelas kelompok menjadi Kelompok Tani Teladan dan mendapat bantuan proyek P2WK (Proyek Pengembangan Wilayah Khusus) dalam bentuk tanaman kopi dan direspon dengan baik oleh anggota sehingga tanaman kopi ini pun berhasil dan produksinya cukup berlimpah.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Kecamatan Majenang Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Cilacap. Majenang

Diniyati D, Suyarno, Anas Badrunasar, Tjejep Sutisna 2003. Kajian Sosial Ekonomi Hutan Rakyat di Desa Boja Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap. P(74-95). Prosiding Seminar Sehari. Prospek Pengembangan Hutan Rakyat di Era Otonomi Daerah. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Loka Penelitian dan Pengembangan Hutan Monsoon Ciamis. Cilacap.

Djoni dan Jaenal Abidin. 2000. Dinamika Kelompok di Kalangan Kelompok Tani Pondok Pesantren (PONTREN) Pelaksana Usahatani Model Wanatani di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy. Pengembangan Model Wanatani di DAS Citanduy. Laporan Kajian Kelembagaan, Sosiologis, Ekonomi dan Biofisik. Kerjasama Universitas Siliwangi Dengan Balai RLKT DAS Cimanuk-Citanduy Ditjen RLPS-DEPHUTBUN RI. Tasikmalaya. Tidak diterbitkan.

Soekanto Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Tim Bina Swadaya. 2001. Pengalaman Mendampingi Petani Hutan. Kasus Perhutanan Sosial di Pulau Jawa. PT. Penebar Swadaya. Jakarta


PENINGKATAN EKONOMI RUMAH TANGGA NELAYAN MELALUI PEMBERDAYAAN WANITA NELAYAN


  1. Latar Belakang

Masyarakat nelayan di kawasan pesisir merupakan kelompok masyarakat yang paling tertinggal dalam berbagai sentuhan pembangunan selama ini. Khususnya pada kelompok nelayan tradisional yang dicirikan oleh teknologi produksi yang rendah, sehingga kemampuan akses terhadap produksi (finishing ground) relatif rendah, akibatnya hasil produksi yang diperoleh juga rendah pula. Implikasi dari itu semua, tingkat pendapatan kelompok nelayan ini sangat rendah.

Pada kelompok nelayan tradisional, peranan istri nelayan di tuntut semakin lebih besar dalam mencari alternatif pendapatan lain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Studi ini bertujuan menganalisis peranan wanita nelayan terhadap ketahanan ekonomi rumah tangga serta alternatif kegiatan ekonomi wanita nelayan guna membantu ekonomi keluarga.


  1. Apa yang Diteliti
  1. Profil sosial ekonomi rumah tangga wanita nelayan tradisional
  2. Pola kegiatan istri nelayan
  3. Pendapatan rumah tangga nelayan
  4. Curahan atau alokasi waktu kerja wanita nelayan

  1. Menggunakan metode apa (METODOLOGI)
  1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada akhir tahun 2004 sampai awal 2005 dan dilakukan pada beberapa wilayah pesisir terpilih di Sumatera Barat, dimana terkonsentrasi pemukinan nelayan tradisional, antara lain: Padang, Pariaman, dan Pesisir Selatan.

  1. Sumber dan Jenis Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder.

- Data primer, diperoleh dari istri (wanita nelayan), melalui wawancara langsung. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan serta wawancara yang mendalam terhadap informasi kunci (key informan).

- Data sekunder, dari berbagai bahan publikasi, seperti: Susenas, Dinas atau instansi terkait serta hasil penelitian lainnya.

  1. Data Analisis

Analisis data dilakukan dengan dua macam, yaitu: (1) Share wanita nelayan dalam pendapatan rumah tangga, (2) Deskriptif analisis tentang peluang berusaha di Pesisir.


  1. Hasilnya Apa

Berdasarkan hasil studi menunjukkan, bahwa rata-rata wanita yang bekerja adalah sebesar 37,5 angka ini tidak berbeda jauh dari hasil studi pada tahun 1996 (Zein, 2000). Apabila diperhatikan berdasarkan alokasi waktu kerja yang dicurahkan bagi kelompok wanita nelayan yang bekerja tersebut, maka selama 5 jam per hari (20%) dari waktunya dicurahkan untuk kegiatan reproduktif (kegiatan memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan mengurus anak dan 6 jam wanita nelayan bekerja dengan yang tidak bekerja, maka curahan waktu kerja untuk kegiatan reproduktif ini lebih banyak pada wanita nelayan yang tidak mempunyai kegiatan ekonomi lainnya.


Konflik dalam pemberdayaan wanita nelayan

1. Masalah paradigma gender yang keliru

Selama ini orang memanndang bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, sehingga hanya diberikan posisi pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan fisik.

  1. Rendahnya kualitas SDM

Pada umumnya kualitas SDM memang relatif rendah di pedesaan pantai, dengan demikian porsi pekerjaan yang sesuai mencari porsi pekerjaan kasar.

  1. Kepedulian stakeholders

Stakeholders masih rendah kepeduliannya terhadap wanita nelayan, sehingga kesempatan pekerjaan sangat rendah.

  1. Kurangnya akses modal

Dipedesaan pantai terhadaap akses modal sangat rendah, sehingga upaya pengembangan usaha yang relatif lambat.

  1. Kurangnya kebersamaan

Hal utama yang menjadi kendala dalam pengembangan usaha wanita nelayan adalah kurangnya kebersamaan dan mereka cenderung bekerja sehari-hari.

  1. Ketergantungan terhadap pihak luar

Kegiatan usaha wanita nelayan sangat tergantung dengan pihak luar seperti, ketersediaan bahan baku, organisasi pemasaran, sumber keuangan, tenaga.dll

  1. Kurangnya pemasaran

Produk-produk hasil karya wanita nelayan di pedesaan pantai sangat sulit di pasarkan.

  1. Tergantung dari hasil tangkapan ikan (suami)

Biasanya produk yang dihasilkan wanita nelayan sangat tergantung kepada hasil kegiatan suami sebagai nelayan.


Proses pemberdayaan wanita nelayan

1. Pembentukan Kelompok

Guna meningkatkan usaha nelayan di pedesaan pantai, perlu adanya kelompok yang kokoh, melalui pembinaan dan penguatan kelompok.

2. Perencanaan program

Program haruslah yang rasional dan dapat dilaksanakan oleh seluruh anggota kelompok.

3. Pelaksanaan program

Dengan program yang baik, maka seluruh anggota kelompok pun harus mampu melaksanakan seluruh program dengan konsisten.

4. Agar usaha masyarakat / wanita dapat berjalan dengan sukses, maka peranan

pendamping adalah sangat penting artinya.


DAFTAR PUSTAKA

Aminah. 1982. Peranan Wanita Nelayan dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga Nelayan Muncar, Banyuwangi – Jawa Timur. Dalam Prosiding Workshop Sosial Ekonomi Perikanan Indonesia. Cisarua, 2-4 November 1982. Pusat Penelitian da Pengembangan Perikanan. Departemen Pertanian. Jakarta.Indonesia(p:151-157).

Jordan. R.E dan neihof A. 1982. Patondu Revisted: A case of Modemization in Fishery, Review ofIndonesia an Malayan Affairs (RIMA). Vol 16 (2), 1982 (p:83-108)

Norr, J.L dan K.F Norr, 1991. Womens Satutus in Peasant-level Fishing, society and Natural Resources, vo.5, p:149-163

Yater, L.R, 1983 The Fishermen’s Family: Economic Roles of Women and Children. Dalam Small Scale Fisheries of San Miguel Bay: Philippines: Social aspect of production an marketing (ed.Bailey). ICLARM Technical reports No.9 Manila Philippines

Zein, A. 2000. The Influence of technological Change on Income and Social Struktur in Artisanal Fisheries in Padang, Indonesia. Universitas Bung Hatta Press. Padang. Indonesia

Zein, A. 2005. The Role of Fisher-women on Food Security at the Traditional Fishermen Household of West Sumatra, Indonesia. Makalah pada International Seminar tentang Food Security di Hanoi – Vietnam, 1-7 Mei 2005.


KELOMPOK KECIL

Sebuah studi baru menemukan bahwa kelompok tiga sampai lima orang berperforma lebih baik dibandingkan individu ketika memecahkan masalah yang kompleks. Penelitian yang diterbitkan dalam edisi AprilJournal of Personality and Social Psychology, menunjukkan bahwa kelompok tiga orang yang mampu memecahkan masalah yang sulit bahkan lebih baik dari individu-individu terbaik bekerja sendirian.

Peneliti peserta 760 mahasiswa dari University of Illinois di Urbana-Champaign surat-untuk memecahkan masalah-nomor kode, bekerja baik secara individu atau sebagai bagian dari kelompok. Penelitian mencatat bahwa ada sejumlah kecil mengejutkan penelitian tentang pengaruh ukuran kelompok pada pemecahan masalah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok berperforma lebih baik daripada individu pada masalah kesulitan rata-rata. Studi saat ini dinilai kinerja dengan membandingkan jumlah percobaan yang diperlukan untuk memecahkan masalah serta jumlah kesalahan yang dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok ukuran tiga,, empat dan lima dilakukan lebih baik daripada individu untuk memecahkan masalah.

Dalam rilis April 23, 2006 tekan APA, pemimpin peneliti Patrick Laughlin disebabkan peningkatan kinerja kelompok untuk, Penelitian juga "kemampuan orang untuk bekerja sama untuk menghasilkan dan mengadopsi respon yang benar, menolak tanggapan yang keliru, dan memproses informasi secara efektif." berasal keberhasilan kelompok-kelompok kecil di surat-untuk tugas-angka untuk "anggota kelompok gabungan kemampuan mereka dan sumber daya untuk melakukan lebih baik daripada yang terbaik dari jumlah yang setara individu pada tugas kelompok yang sangat intellective saling melengkapi."

Sementara peneliti memiliki hipotesis bahwa kelompok dua akan mengungguli jumlah yang setara individu, hasil penelitian ini benar-benar menunjukkan bahwa kelompok dua orang yang dilakukan pada tingkat yang sama sebagai individu yang bekerja sendirian. Selain itu, sementara kelompok tiga,, empat dan lima orang dilakukan secara signifikan lebih baik daripada jumlah yang setara dengan kelompok "terbaik individu" dan dua orang, tiga kelompok tidak berbeda satu sama lain dalam hal kinerja. Hasil studi ini karena itu menyarankan, "Tiga anggota kelompok yang diperlukan dan cukup untuk kelompok untuk melakukan lebih baik daripada yang terbaik dari jumlah setara individu independen."

Penelitian ini memiliki sejumlah implikasi di bidang akademik, ilmu pengetahuan, kedokteran, dan bisnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tiga lebih efisien dan lebih akurat dalam memecahkan masalah-masalah sulit yang sedang memerlukan penggunaan logika, verbal, dan pemahaman kualitatif. Para penulis dari penelitian ini menyarankan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah tiga orang kelompok lebih efektif dalam memecahkan jenis persoalan lain, dan apakah efektif pemecahan masalah dalam suatu kelompok kemudian transfer ke pemecahan masalah individual.

Referensi:

Laughlin, P., Hatch, E., Silver, J., & Boh, L. (2006) Grup Lakukan Better Than Individu Terbaik pada Surat-ke Bilangan Masalah-: Pengaruh Ukuran Group, Jurnal Psikologi Kepribadian dan Sosial, Vol. 90, No. 4. 90, No 4.

"Grup Lakukan Better Than Individu Terbaik di Mengatasi Masalah Kompleks," APA Siaran Pers.

Keahlian dalam pemecahan masalah kelompok: Pengakuan, kombinasi sosial, dan kinerja:. Group Dinamika Teori, Riset, dan Praktek, 4, 277-290.

Bray, RM, Kerr, NL, & Atkin, RS (1978). Bray, RM, Kerr, NL, & Atkin, RS (1978). Pengaruh ukuran kelompok, masalah kesulitan, dan seks pada kinerja kelompok dan reaksi anggota.. Journal of Personality and Psycholog Sosial, 36 y, 1224-1240

Hill, GW (1982). Hill, GW (1982). Kinerja individu versus kelompok: Apakah N _ 1 kepala lebih baik dari satu 517-539? Psychological Bulletin, 91,.

Tindale, RS, & Kameda, T. (2000). Tindale, RS, & Kameda, T. (2000). "Social sharedness" sebagai tema pemersatu untuk pemrosesan informasi dalam kelompok.. Group Proses dan antargolongan Hubungan, 3, 123-140


Keanekaragaman, Konflik, dan Kinerja Pada Kelompok Kerja

Sebuah studi lapangan dari 92 kelompok kerja menjelajahi pengaruh tiga jenis keanekaragaman kelompok kerja (keragaman kategori sosial, keragaman nilai, dan keragaman informasi) dan 2 moderator (tipe tugas dan tugas mandiri) pada hasil kelompok kerja.

Keanekaragaman dan konflik

Tiga kategori keanekaragaman dibahas dalam penelitian terakhir pada kelompok: keragaman informasi,keragaman kategori sosial, dan keragaman nilai. Contohnya, dua orang dari ras yang berbeda (Keanekaragaman kategori sosial) mungkin (meskipun tidak harus) mempunyai pengalaman pendidikan budaya (keragaman informasi) dan akibatnya mendukung nilai yang berbeda (keanekaragaman nilai). Setiap berbagai jenis dari keanekaragaman menyiratkan tantangan yang berbeda dan kesempatan bagi kelompok kerja, dan akibatnya,harus dapat mempengaruhi hasil kelompok kerja yang berbeda.

keragaman lnformational. keragaman lnformational mengacu basis pengetahuan yang berbeda dan perspektif yang membawa anggota kelompok. Perbedaan-perbedaan tersebut berdiri sebagai fungsi dari perbedaan anggota kelompok seperti pendidikan, pengalaman, dan keahlian. Perbedaan dalam latar belakang pendidikan, pelatihan, dan pengalaman pekerjaan yang mungkin meningkat bermacam-macam perspektif dan opini yang ada dalam kelompok kerja (Stasser, 1992).

Hipotesis la (Hla):

Perbedaan informasional akan meningkatkan konflik tugas dalam kelompok kerja. Kelompok kerja mempunyai alasan sering gagal menyadari kemampuan potensial dari keanekaragaman informasi dan konflik tugas. Pertama, Organisasi yang sering menjawab kecenderungan kelompok-kelompok untuk membentukberdasarkan pada jaringan sosial bersama (misalnya, kesamaan, kedekatan, keakraban) dengan membuat-tim lintas fungsional, atau tim dengan anggota pelatihan fungsional yang berbeda, untuk meningkatkan keragaman informasi tersedia pada kelompok (Northcraft., 1995). Alasan kedua sering gagal menyadari /manfaat dari keragaman informasi yang membuat sebuah kelompok informasi yang juga mencegah kelompok dari mewujudkan manfaat dari keragaman informasinya. Perselisihan dalam kelompok kerja bisa menjadi pertentangan tentang isi tugas ( konflik tugas), tetapi mereka juga bisa menjadi perselisihan tentang bagaimanamelakukan tugas atau cara untuk mendelegasikan sumber daya, yang mencerminkan proses konflik (Jehn, 1997).Sebagai contoh, seorang anggota kelompok dengan latar belakang teknik mungkin ingin diproses berbeda (dalam hal bagaimana mengidentifikasi potensi program aksi dan memilih di antara mereka) dari anggota kelompok dengan sebuah latar belakang marketing atau akuntansi.

Hypothesis 1.b (Hlb):

Keragaman informasi akan meningkatkan proses konflik dalam kelompok kerja.

keragaman kategori sosial. kategori keragaman sosial merujuk pada perbedaan eksplisit antara anggota kelompok dalam keanggotaan kategori sosial, seperti seperti ras, gender, dan etnis (Jackson, 1992; Pelled, 1996a). Keanggotaan kategori sosial secara eksplisit menetapkan karakteristik terutama yang menonjol dasar dimana individu dapat mengkategorikan diri sendiri dan orang lain. Permusuhan dalam kelompok ini muncul ke permukaan sebagai hubungan anatara konflik-konflik anggota 'pribadi dengan memilih kelompok kerja atau perselisihan dalam interaksi interpersonal biasanya sekitar isu-isu yang bukan pekerjaan seperti gosip, kegiatan sosial, atau agama. (Jehn, 1995, 1997).

Hipotesis 2 (H2):

Keragaman kategori sosial akan meningkatkan hubungan konflik di kelompok kerja.

Nilai keanekaragaman. Nilai keragaman terjadi ketika anggota dari kelompok kerja berbeda dalam hal apa yang mereka pikir dari kelompok yang nyata dalam tugas kelompok kerja, tujuan, target, atau misi seharusnya. Sebagai contoh, anggota kelompok yang nilai efektivitas (misalnya, kualitas) cenderung memiliki perselisihan tentang tugas dan alokasi sumber daya dengan anggota kelompok yang nilai efisiensi (misalnya, unit diproduksi).

Hipotesis 3 (H3):

Nilai keanekaragaman akan meningkatkan konflik pekerjaan, proses konflik, dan hubungan konflik dalam kelompok kerja.

Keanekaragaman dan Kinerja

Penelitian menangani faktor penentu kinerja kelompok dalam organisasi yang menunjukkan keberhasilan yang sering bergantung pada kemampuan kelompok kerja untuk mencakup, pengalaman, dan mengatur (dari pada menghindari) perselisihan yang timbul (Tjosvold, 1991 ; Gruenfeld et al., 1996. ) Schwenk dan Valacich (1 994) menemukan bahwa mengevaluasi dan mengkritik konflik yang menggunakan tentang keputusan tugas yang dihasilkan lebih baik dalam kelompok kerja dari pada anggota yang menghindari konflik atau mengurangi perselisihan mereka. Dampak negatif dari keragaman nilai dan kategori sosial (yaitu, meningkatkan hubungan konflik), kesamaan cenderung paling efektif dalam bidang nilai dan keragaman kategori sosial. Akibatnya, keragaman yang rendah nilai dan rendah keragaman kategori sosial menciptakan kondisi untuk sebuah kelompok kerja untuk mengambil keuntungan dari keragaman informasinya, yang dapat dicerminkan dalam kinerja kelompok kerja.

Hipotesis 4 (H4):

Pengaruh keanekaragaman informasi pada pekerjaan kinerja kelompok akan dipandu oleh keanekaragaman nilai dan sosial kategori keragaman dalam kelompok; keanekaragaman informasi lebihcenderung meningkat kinerja workgroup ketika nilai keragaman dan keragaman sosial kategori dalam kelompok rendah daripada ketika mereka Tinggi.

Kinerja tidak hanya hasil yang menarik bagi organisasi kelompok kerja. Para pekerja juga mempertaruhkan moral dan komitmen, yang memiliki implikasi jangka panjang untuk kinerja kelompok yang baik untuk biaya yang berkaitan dengan ketidakhadiran dan keterlambatan kerja.

Hipotesis 5 (H5):

Nilai tinggi keragaman dan keragaman kategori sosial akan menurunkan moral pekerja.

Moderator dari Efek Keanekaragaman

Ketika suatu tugas kompleks dan tidak mengerti dengan baik, bagaimanapun juga, membahas dan berdebat bersaing secara perspektif dan pendekatan sangat penting bagi anggota kelompok untukmengidentifikasi strategi-strategi tugas yang sesuai dan untuk meningkatkan ketelitian dalam 'penilaian situasi anggota (misalnya, Fiol, 1994; Amason dan Schweiger, 1994; Putnam, 1994; Jehn, 1995). Seperti tugas kompleks semacam itu memerlukan pemecahan masalah, memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, dan memiliki beberapa prosedur yang mengatur ketika tugas rutin memiliki tingkat rendah variabilitas, yang berulang (Hall, 19721) umumnya sangat akrab dan dilakukan dengan cara yang sama setiap kali (Thompson, 1967).

Hipotesis 6 (H6):

keanekaragaman Informational lebih mungkin untuk meningkatkan kinerja kelompok kerja ketika tugas-tugas yang kompleks daripada yang rutin.

Sebelum penelitian juga menunjukkan bahwa tugas yang saling ketergantungan dapat mempengaruhi keanekaragaman efek dalam kelompok kerja. Tugas yang saling tergantung adalah sejauh mana anggota kelompok mengandalkan untuk menyelesaikan pekerjaan satu dengan yang lainnya (Van de Ven, Delbecq, danKoenig, 1976). Pengaruh keanekaragaman nilai dan keragaman kategori sosial akan diperburuk bila tugas saling bergantung:

Hipotesis 7 (H7):

Pengaruh yang tidak berlebihan dari keragaman nilai dan keanekaragaman kategori sosial pada hubungan antara keragaman informasi dan kinerja kelompok kerja akan lebih kuat ketika tugas saling terikat dibandingkan tugas yang bebas.

Hipotesis 8 (H8):

Keanekaragaman nilai dan keragaman kategori sosial akan lebih cenderung menurunkan moral ketika tugas saling terikat daripada independen.

Mediator Efek Keanekaragaman

Hubungan dan proses konflik yang negatif dikaitkan dengan kinerja dan moral, sedangkan konflik tugas telah terbukti memiliki dampak positif pada kinerja (Jehn, 1995, 1997; Amason, 1996). Oleh karena itu, kami mengusulkan hipotesis berikut:

Hipotesis 9a (H9a):

konflik tugas akan menengahi efek dari keanekaragaman informasi terhadap kinerja kelompok kerja.

Hipotesis 9b (H9b):

Proses konflik akan dimediasi dari efek keanekaragaman informasi terhadap kinerja kelompok kerja.

Hipotesis 9c (H9c):

Proses konflik akan memediasi efek nilai keanekaragaman terhadap moral pekerja.

Hipotesis 9d (H9d):

Hubungan konflik akan memediasi efek keragaman nilai dan keragaman kategori sosial terhadap moral pekerja.

Hipotesis diuji dalam studi bidang organisasi Kelompok.

METODE

Situs dan Sampel Penelitian

Sampel terdiri dari 545 karyawan di satu dari tiga perusahaan teratas di industri barang-barang rumah tangga bergerak. Sampel (sebagaimana dilaporkan dalam Jehn, 1995) diambil dari antar kantor pusat nasional untuk perusahaan ini, yang menampung semua fungsi wilayah nasional: divisi meliputi pemasaran dan penjualan, accounting , sistem informasi, domestik dan operasi internasional, dll. Sebuah unit pekerjaan didefinisikan dalam organisasi sebagai sebuah kelompok di mana semua personil melaporkan langsung kepada pengawas yang sama dan berinteraksi untuk menyelesaikan tugas-tugas unit.

Survei

Survei ini terdiri dari 85-laporan diri, gaya pertanyaan Likert, memerintahkan secara acak. Kami menggunakan catatan pribadi untuk memverifikasi informasi demografi yang dikumpulkan oleh survei dan, diwaktu yang sama, mengumpulkan data arsip, seperti kinerja Appraisal dan laporan pengeluaran dari departemen.Enam puluh pengawas, manajer, dan wakil presiden yang diterima dan kembali paket bahan untuk mengevaluasi unit kerja mreka (s). Informasi dikumpulkan dalam paket ini termasuk bagian dari organisasi, kelompok dan individu peringkat efektivitas, dan laporan pengeluaran departemen .

Tindakan Keanekaragaman

Persepsi terhadap nilai perbedaan di antara anggota kelompok diukur dengan enam poin pada skala Likert-5 berlabuh dengan 1 = "Sangat tidak setuju" dan 5 = "Sangat setuju." Anggota diminta jika nilai dari seluruh anggota kelompok adalah serupa, jika unit kerja secara keseluruhan mempunyai nilai kerja sama, jika unit kerja secara keseluruhan memiliki tujuan yang sama, apakah anggota telah memegang keyakinan kuat tentang apa yang penting dalam unit kerja, apakah anggota memiliki tujuan yang sama, dan jika-semua anggota setuju pada apa yang penting bagi kelompok. koefisien alpha untuk skala ini adalah 0,85.

Seperti biasa dalam pengobatan variabel kategori, kita menggunakan indeks berbasis entropi (Teachman, 1980; Ancona dan Caldwell, 1992) untuk membentuk jumlah total informasi dan keragaman kategori sosial dalam kelompok kerja:

Jika karakteristik demografi tidak ditunjukkan dalam tim, nilai yang diberikan adalah nol. Ditambah, indeks keanekaragaman merupakan jumlah dari produk dari karakteristik proporsi masing-masing yang membuat unit kerja dan tercatat alami dari proporsinya. Semakin tinggi keragaman indeks, semakin besar distribusi karakteristik dalam unit kerja.

Hasil

H1a : Keragaman informasi secara positif berkaitan dengan konflik tugas dalam keompok kerja.

H1b : memprediksi keragaman informasi dapat meningkatkan proses konflik, bukan mendukung.

Keragaman informasi dan nilai dijelaskan 13,9 persen dari variasi konflik tugas.

H2 : Keragaman kategori sosial dan keragaman nilai ditunjukkan 21.9 persent dari variasi dalam hubungan konflik dengan kelompok.

H3 : keragaman nilai secara positif dan signifikan berkaitan dengan semua tiga tipe konflik. Keanekaragaman nilai sendiri menjelaskan 10.3 persen dari proses konflik dengan kelompok kerja.

H4 : keragaman nilai dimoderasi dari efek keragaman infoirmasi dalam kinerja sebenarnya dan efisiensi; keragaman informasi pada tingkat rendah akan lebih berpengaruh ketika keragaman nilai mencapai tingkat tinggi.

H5 : Keragaman informasi secara positif berkaitan dengan efisiensi keragaman kategori sosial yang rendah. Hubungan hipotesis menjelaskan diantara 6.6 persen (efisiensi kelompok kerja) dan 37.8 persen (komitmen dari kelompok kerja) dari kinerja kelompok dan moral para pekerja.

H6 : Interaksi dari keragaman informasi dan tipe tugas. Secara signifikan untuk mengukur tiga dari kelompok kerja yaitu menyadari kinerja, actual, dan efisiensi; keragaman informasi lebih meningkatkan kinerja ketika tugas selesai.

H7 : mengurangi efek dari keragaman nilai dan keragaman kategori sosial dalam hubungannya diantara keragaman informasi dan kinerja kelompok kerja yang lebih kuat ketika tugas yang saling terikat meningkat.

H8 : memprediksi bahwa keragaman nilai dan keragaman kategori sosial ketika tugasnya saling terkait meningkat.

H9a : memprediksi bahwa konflik tugas dapat dimediasi efek dari keragaman informasi dalam kinerja kelompok kerja.

H9b : Hasil tidak dikonfirmasi. Bahwa proses konflik akan dimediasi dari efek keragaman informasi kedalam kinerja kelompok kerja.

H9c : Hasil di konfirmasikan. Proses konflik akan memediasi dari efek keragaman nilai untuk moral pekerja.

H9d : Hubungan konflik dapat memediasi efek dari keragaman nilai dan keragaman kategori sosial untuk moral pekerja.

REFERENCES

Amabile, Teresa M. 1994 "The atmosphere of pure work: Creativity in research and development." In William R. Shadish and Steve Fuller et al. al. (eds.), The Social Psychology of Science: 31 6-328. New York:GuilfordPress.

Amason, Allen C. 1996 "Distinguishing the effects of functional and dysfunctional conflict on strategic decision making: Resolving a paradox for top management teams." Academy of Management Journal, 39: 123-1 48. and Harry J. Sapienza 1997 "The effects of top management team size and interaction norms on cognitive and affective conflict." Journal of Management, 23: 495-516.

Amason, Allen C., and David M. Schweiger 1994 "Resolving the paradox of conflict, strategic decision making and organizational performance." International Journal of Conflict management, 5: 239-253.

views and backgrounds members bring with them to the

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
 
Blogger design by suckmylolly.com